Kamis, 17 November 2011

tarekat naqsabandiah wa qodariah


TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH

Tarekat Qodiriyah
Nama tarekat ini diambil dari nama pendirinya yakni, Syaikhn’Abd al-Qâdir Jilani al-ghawsts. Tarekat ini merupakan tarekat yang terpenting dalam islam karena sebagai pendiri tarekat dalam islam di seluruh dunia. Terekat Qadiriyah dalam ajarannya menekankan pada tauhid dan ahlak yang terpuji dalam pelaksanaannya tetap menempuh syariat lahir dan batin. Pemurnian aqidah yang dilakukan dalam tarekat ini dengan meletakkan diri pada sikap beribadah yang baik. Ajaran spiritual menurut Syaikh ‘Abd al-Qâdir yang berakar pada konsep pengalamannya terhadap Tuhan. Tuhan dan tauhid menurutnya bukanlah suatu mitos teologis maupun abstraksi logis, melainkan sebuah pribadi yang mempunyai pengalaman intelektual yang tinggi. Kesadaran akan adanya Tuhan merupakan tuntunan hidup untuk memberikan nilai transenden pada kehidupan itu sendiri. Ajaran dalam tarekat ini juga menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia. Untuk mengatasi sebuah masalah tersebut, beliau memberikan petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi diantaranya, taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha dan jujur. Tidak hanya itu, ajaran yang lainnya dalam tarekat ini berupa zikir terhadap Tuhan dengan melantunkan asmâ Allâh secara berulang-ulang. Pelaksanaannya terdiri dari tingkatan dan intensitas yakni, pertama zikir dengan satu gerakan dilakukan dengan mengulang-ulang asmâ Allâh, hal ini harus dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Kedua, zikir dengan dua gerakan dilakukan dengan duduk sewaktu sesudah solat dan meletakkan tangan dekat dada bagian kanan. Zikir ini dianggap untuk meningkatkan konsentrasi dan meng-hilangkan rasa gelisah serta pikiran yang sedang kacau. Ketiga, zikir dengan tiga gerakan dilakukan sambil duduk bersila, ini dilakukan dapat memberikan intensitas diri yang kebih tinggi dengan pengulangan yang lebih sering. Zikir merupakan kunci untuk menempati posisi yang amat penting dari tarekat, karena dengan zikir dapat membuka gerbang pintu dunia spiritual yang tidak terbatas. Inti dari ajaran tarekat qodariyah ini adalah terdapat lima macam pokok ajarannya yakni; cita-cita yang tinggi, memelihhara kehormatan, memelihara nikmat, melaksanakan maksud, mengagungkan nikmat.

Tarekat Naqsyabandiyah
Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah adalah seorang pemuka tasawuf yang terkenal, Muhammad bin Muh. Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi, 1318-1389M. Tarekat naqsyabandiyah merupakan tarekat yang mempunyai dampak besar dalam mempengaruhi masyarakat muslim di seluruh dunia. Tarekat naqsyabandiah lebih mengenal sebelas aspek sebagai ajarannya diantaranya:
1.      Sadar sewaktu bernafas; merupakan suatu latiihan sufi dalam berkonsentarsi.
2.      Menjaga langkah; agar tujuan ruhani-nya tidak terkacau oleh sekelilingnya.
3.      Melakukan perjalanan di tanah kelahirannya; meninggalakan segala bentuk ketidak sempurnaannya untuk menuju kesadaran sebagai mahluk yang mulia.
4.      Sepi di tengah keramaian; menyibukkan diri dengan berzikir ke pada Allah.
5.      Ingat atau menyebut; agar dalam hari bersemayam kesadaran akan Allah.
6.      Kembali atau memperbaharui; mengendalikan hati supaya tidak menyimpang.
7.      Waspada; menjaga perasaan dan pikiran agar tidak menyimpang dari kesadaran.
8.      Mengingat kembali; untuk mencapai derajat ruhani tinggi yang bisa dicapai.
9.      Memeriksa penggunaan waktu seseorang; menghabiskan waktu dunia untuk berzikir.
10.  Memeriksa hitungan zikir; mengulangi kalimat zikir dengan hitungan yang ganjil.
11.  Menjaga hati tetap terkontrol; membayangkan Allah ada di dalam hati kita.

Tarekat Qadiriyanh wa Naqsyabandiyah
Tarekat ini merupakan tarekat gabungan dari Qadariyah dan Naqsyabandiyah (TQN), tarekat ini didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas 1802-1872M. Beliau adalah ulama besar di Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Beliau juga merupakan seorang musyrid Tarekat Qadariyah dan Naqsyabandiyah. Penggabungan antara kedua tarekat ini saling melengkapi terutama dalam berzikir dan metodenya. Keduanya juga saling menekankan pentingnya syariat, dalam ajarannya tarekat Qadariyah mengakarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, dan Naqsyabandiyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Sebagai suatu mazhab dalam tasawuf tarekat ini memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama hal kesufian.
Kedua tarekat tersebut kemudian dimodifikasi oleh Syekh Khatib Sambas. Sebagai seorang yang alim dan ma’rifat kepada Allah, Syekh Khatib Sambas memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya karena dalam Tarekat Qadiriyah memang ada kebebasan untuk memodifikasi bagi yang telah mencapai derajat mursyid. Dalam Tarekat Qadiriyah apabila seorang murid telah mencapai derajat syekh seperti gurunya, ia tidak diharuskan untuk selalu mengikuti tarekat gurunya. Seorang syekh Tarekat Qadiriyah berhak untuk tetap mengikuti tarekat guru sebelumnya atau memodifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal ini karena ada petuah dari Syekh Abdul Qadir al- Jailani bahwa murid yang telah mencapai derajat gurunya, maka ia jadi mandiri sebagai syekh dan Allah lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang terdapat di Indonesia bukanlah hanya merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang berbeda yang diamalkan bersama-sama. Tarekat ini menjadi sebuah tarekat yang baru dan berdiri-sendiri, yang di dalamnya unsur-unsur pilihan dari Qadiriyah dan Naqsyabandiyah telah dipadukan menjadi sesuatu yang baru. Penggabungan inti dari kedua ajaran ini atas dasar pertimbangan logis dan strategis bahwa kedua ajaran inti itu bersikap saling melengkapi terutama dalam hal jenis dzikir dan metodenya.
Penyebaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah diperkirakan sejak paruh kedua abad ke-19, yaitu semenjak tibanya kembali murid-murid Syekh Khatib Sambas ke tanah air. Di Kalimantan Barat, daerah asal Syekh Khatib Sambas, tarekat ini disebarkan oleh kedua orang muridnya yaitu Syekh Nuruddin yang berasal dari Pilipina dan Syekh Muhammad Sa’ad putra asli Sambas. Karena penyebaran tidak melalui lembaga formal seperti pesantren maka tarekat hanya tersebar dikalangan orang awam dan tidak mendapatkan perkembangan yang berarti.  Lain halnya di pulau Jawa tarekat ini disebarkan melalui pondok pesantren yang didirikan dan dipimpin oleh para pengikutnya sehingga mengalami kemajuan yang pesat. Penyebaran tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Jawa dilakukan oleh 3 (tiga) murid Syekh Khatib Sambas, yaitu Syekh Abdul Karim Banten, Syekh Tholhah Cirebon, dan Kyai Ahmad Hasbullah Madura. Syekh Abdul Karim Banten merupakan murid kesayangan Syekh Ahmad Khatib Sambas di Mekah. Semula dia hanya sebagai khalifah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Banten, tahun 1876 diangkat oleh Syeikh Khatib Sambas menjadi penggantinya dalam kedudukan sebagai mursyid utama tarekat ini yang berkedudukan di Mekah. Dengan demikian semenjak itu seluruh organisasi TQN di Indonesia menelusuri jalur spiritualnya (silsilah) kepada ulama asal Banten tersebut.
Khalifah dari Kyai Tholhah Cirebon yang paling penting adalah Abdullah Mubarrok, belakangan dikenal sebagai Abah Sepuh. Abdullah melakukan baiat ulang dengan Abdul Karim Banten di Mekah. Pada dekade berikutnya Abah sepuh membaiat putranya K.H.A. Sohibul Wafa Tadjul Arifin yang lebih masyhur dengan panggilan Abah Anom. Hingga sekarang Abah Anom Masih menjadi mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Di bawah kepemimpinan Abah Anom ini, tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di kemursyidan Suryalaya berkembang pesat. Dengan menggunakan metode riyadah dalam tarekat ini Abah Anom mengembangkan psikoterapi alternatif, terutama bagi para remaja yang mengalami degradasi mental karena penyalahgunaan obat-obat yang terlarang, seperti, morfin, heroin dan sebagainya.
Sampai sekarang di Indonesia ada 3 (tiga) pondok pesantren yang menjadi pusat penyebaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yaitu :
·         Pondok Pesantren Rejoso, Jombang - Jawa Timur,
·         Pondok Pesantren Mranggen, Jawa Tengah,
·         Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya - Jawa Barat.
Ajaran-ajaran Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiah
Sebagai suatu madzhab dalam tasawuf, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah memiliki beberapa ajaran yang diyakini akan kebenarannya, terutama dalam kehidupan kesufian. Ada beberapa ajaran yang diyakini paling efektif dan efesian sebagai metode untuk mendekatkan diri dengan Allah. Pada umumnya metode yang menjadi ajaran dalam tarekat ini didasarkan pada al-Qur’an, Hadis, dan perkataan para sufi. Ada beberapa pokok ajaran dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di antaranya ajaran tentang : kesempurnaan suluk, adab kepada para mursyid, dzikir.
a.       KESEMPURNAAN SULUK
Ajaran yang sangat ditekankan dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah suatu keyakinan bahwa kesempurnaan suluk (merambah jalan kesufian dalam rangka mendekatkan diri dengan Allah), adalah jika berada dalam 3 (tiga) dimensi keimanan, yaitu : Islam, Iman, dan Ikhsan. Ketiga term tersebut biasanya dikemas dalam satu jalan three in one yang sangat populer dengan istilah syariat, tarekat,dan hakikat.
b.      ADAB KEPADA PARA MURSYID
Adab kepada mursyid (syekh), merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam tarekat. Adab atau etika murid dengan mursyidnya diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai adab para sahabat terhadap Nabi Muhammad SAW. Hal ini diyakini karena muasyarah (pergaulan) antara murid dengan mursyid melestarikan sunnah (tradisi) yang dilakukan pada masa nabi. Kedudukan murid menempati peran sahabat sedang kedudukan mursyid menempati peran nabi dalam hal irsyad (bimbingan) dan ta’lim (pengajaran). Seorang murid harus menghormati syekhnya lahir dan batin. Dia harus yakin bahwa maksudnya tidak akan tercapai melainkan ditangan syekh, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dibenci oleh syekhnya.

c.       DZIKIR
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah termasuk tarekat dzikir. Sehingga dzikir menjadi ciri khas yang mesti ada dalam tarekat. Dalam suatu tarekat dzikir dilakukan secara terus-menerus (istiqamah), hal ini dimaksudkan sebagai suatu latihan psikologis (riyadah al-nafs) agar seseorang dapat mengingat Allah di setiap waktu dan kesempatan. Dzikir merupakan makanan spiritual para sufi dan merupakan apresiasi cinta kepada Allah.
Zikir yang dipelajari dalam tarekat ini ada dua macam yakni, Dzikir nafi isbat, dan Dzikir ismu dzat. Kedua jenis dzikir ini dibaiatkan sekaligus oleh seorang mursyid pada waktu baiat yang pertama kali. Dapatlah difahami bahwa tarekat adalah cara atau jalan bagaimana seseorang dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Diawal munculnya, tarekat hanya sebuah metode bagaimana seseorang dapat mendekatkan diri dengan Allah dan masih belum terikat dengan aturan-aturan yang ketat. Tetapi pada perkembangan berikutnya tarekat mengalami perkembangan menjadi sebuah pranata kerohanian yang mempunyai elemen-elemen pokok yang mesti ada yaitu: mursyid, silsilah, baiat, murid, dan ajaran-ajaran.
Kesimpulan
Tujuan seseorang mendalami tarekat muncul setelah ia menempuh jalan sufi (tasawuf) melalui penyucian hati (Tasfiyatul Qalb). Pada prakteknya tasawuf merupakan adopsi ketat dari prinsip Islami dengan jalan mengerjakan seluruh perintah wajib dan sunah agar mencapai ridha Allah.
Daftar Pustaka
Abdullah, Hawas, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1980)
Aceh, Abu Bakar, Pengantar Ilmu Tarekat: Kajian Historis Tentang Mistik, (Solo: Ramadhani, 1995), cet. ke-2
Syata, Sayid Abu Bakar ibn Muhammad, Menapak Jejak Kaum Sufi, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997), cet. ke-1

TAREKAT QODARIYAH WA NAQSYABANDIYAH
logo iain.JPG

Di susun oleh:
Apri Adnan
Awang Yulias S
Ibrahim Arrosyid
Siti Muniratun na’im
Taufiq Jalaludin



AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar