Kamis, 17 November 2011

babad jawi


MAKALAH
DEMAK BINTARA
KERAJAAN ISLAM PERTAMA DIPULAU JAWA

Dosen Pembimbing :
Syamsul Bakri, S.Ag, M. Ag
SEJARAH PERADABAN ISLAM DIPULAU JAWA DWIPA

Oleh :
Musta'in. R
NIM : 26.09.4.2.018

 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
***** TAHUN 2010 ****
BAB I
PENDAHULUAN
Demak bintara merupakan salah satu Kerajan Islam pertama di tanah jawa, dan merupakan pusat penyebaran islam dipulau jawa. Ambil andil Kerajaan Demak dalam penyebaran islam sangat kental dengan aroma ajaran arab terbukti dengan penolakan ajaran tasawuf “ Manunggaling Kawulo Gusti “ oleh Syeh Sitit Jenar disebutkan dalam babat jawi, yang dianggap murtad oleh ajaran islam walaupun semua itu belum dapat dibuktikan dengan catatan-catatan sejarah yang autentik, namun tidak bisa dipungkiri dan paling penting bahwa kerajan demak adalah pusat penyebaran islam pertama di pulau jawa yang dipimpin seorang raja putra angkat dari Brawijaya -raja majapahit- yaitu : Raden Fatah dan dibantu para wali songo.

BAB II
PEMBAHASAN
KERAJAAN ISLAM PERTAMA DIPULAU JAWA
A.                 Islam Masuk dipulau Jawa
Menurut Prof. Kern sejak tahun 2000 SM, telah terjadi perpindahan bangsa 3 (tiga) kali dari Indo-Cina ke Indonesia.
Menurut syekh Subakhir, seorang pendeta dari kelling yang berbudi luhur dan berilmu tinggi berasal dari kerajaan Roma Timur, ber-ibukota di Istanbul (orang jawa menyebutnya Rum Turki), berpindah bangsa yang dipimpin olehnya kurang lebih 2000 keluarga mendarat di pulau jawa, dan terus merambat dipedalaman, melalui proses zaman berkembang biak yang akhirnya pada tahun +/- tahun 450 M di daerah munculah kerajaan tertua dipulau jawa tepat nya di Cidahe, Bogor yaitu : Tarumanegara_yang memiliki nilai sejarah yaitu peninggalan batu yang bergambar telapak kaki raja Tarumanegara.
            Beberapa Abad kemudian Muncullah kerajaan Banjarsari pada abad ke-7 di Ciamis-Jawa Barat,  yang dipimpin oleh seorang raja bernama Adimulya atau Pangeran Lelean Anom dan Rakyat menganut agama Sang Hiyang/Hindu-Budha. Disinilah tanaman padi dikenal dan pertanian maju rakyat makmur, dan disini terdapat pelabuhan yang menjadi tempat transit kapal-kapal dagang dari Persia, Gujarat, Arab, Turki,india, Malaka, dsb. Dan merupakan pusat perdagangan disinilah Islam Mulai muncul yang berasal dari pedagan Arab atau Compeni Arab yang Mayoritas beragama Islam. Kemudian setelah pedagang arab ( Muslim ) sudah menguasai dan mengepung perdagangan diberbagai wilayah di Jawa Dwipa(Pulau Jawa), disisi lain dari perdagangan Muslim Arab membawa misi-misi Islam dari Bagdad, Mekah, Mesir, dan mereka berkumpul Pulau Jawa untuk melakukan Exspansi agama Islam, dan mereka membentuk dewan Wali Sanga yang diketua oleh Sunan Ampel – Sunan Gunung Jatai Syarif Hidayatullah.
Dengan Anggota – Anggotanya :
1.      Sunan Ampel Almarhum/ tidak digantikan
2.      Sunan Gunung Jati
3.      Sunan Undung digantikan Sunan Kudus
4.      Sunan Kudus
5.      Sunan Giri
6.      Sunan Kali Jaga
7.      Syeh Lemah Abang ( Syeh Siti Jenar )
8.       Syeh Bentong
9.      Syeh Majagung
A. Asal Ushul Kerajaan Demak
a. Kerajaan Demak +/- tahun (1475-1518)
Dimulai di tanah jawa ada agama islam pada tahun antara 1400-1425 SM. Orang Islam tersebut berasal dari Gujarat. Dari malaka itu, agama Islam tersebar ke Tanah Jawa, Tanah China, Indhiya Buri dan Indhiya Ngarep. Yang menyebarkan islam di Jawa pertama kali adalah Pedagang Jawa dari Tuban dan Gresik, yang sering berdagang di Malaka, mereka belajar agama islam, sehingga islam terkadang agak dipaksa. Para pedagang jawa tadi pulang ke Jawa Timur, pedagang Indhu dan Persia juga ada yang ikut masuk ke sana dan ikut menyebarkan agama islam kepada Masyarakat. Yang terkenal adalah Maulana Malik Ibrahim (Berkebangsaan Persia), meninggal di Gresik pada tahun 1419. Hingga sekarang makamnya masih ada.
Dalam buku “Buku Babad Tanah Jawi edisi Meinsme, Sejarah Pahlawan Nasional, Sejarah Islam Indonesia: 1989”. diceritakan sebelum disebutan kerajaan demak dulu dikenal dengan sebutan bintoro, dimana bintoro merupakan kerajan yang berada dibawah naungan kerajan majapahit, sekitar tahun - tahun 1500_an ada seorang pemuda pertapa bernama yang memiliki ilmu kanuragan yang hebat dan bermukim dengan mendirikan padepokan, setelah kabar mulut kemulut akhirnya prabu Brawijaya raja dari maja pahit mendengar cerita itu, kemudian diutuslah tumenggung dari majapahit bernama Pangeran husen disertai bala tentara, untuk memenggil sang pertapa yaitu Raden fatah, mendengar adanya panggilan dari majapahit Raden Fatah memenuhi panggilan itu, pertemuan tersebut ternyata Raden Fatah diangkat anak oleh Brawijaya - setelah mendengar cerita panjang dari raden fatah.
b. Asal-Usul Tokoh Utama ( Raden Patah )
Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra dari Raja Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad) dari seorang selir Cina. Karena Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa merasa cemburu, Brawijaya terpaksa memberikan selir Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupati Palembang. Setelah melahirkan Raden Patah, putri Cina dinikahi Arya Damar, melahirkan Raden Kusen. Raden Patah Berguru kepada Sunan Ampel di padepokan Ampel dan kemudian bertapa di Hutan Bintoro. Yang sekarang dikenal dengan sebutan Demak Bintara.
c.         Raden Patah Mendirikan Demak
Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah menolak menggantikan Arya Damar menjadi bupati Palembang. Ia kabur ke pulau Jawa ditemani Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren.
Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.
d.         Perang Demak dan Majapahit
Perang antara Demak dan Majapahit diberitakan dalam naskah babad dan serat, terutama Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Dikisahkan, Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit karena meskipun berbeda agama, Brawijaya tetaplah ayah Raden Patah. Namun sepeninggal Sunan Ampel, Raden Patah tetap menyerang Majapahit denagn membawa 10.000 pasukan/prajurit. Sesampai disana kerajaan majapahit sudah kosong tanpa penghuni karena Brawijaya pergi meninggalkan kerajaan dengan alasan majapahit sudah diramalkan Majapahit kalah dan hancur dan akan ada kerajaan baru dengan agama baru yang akan menguasai pulau jawa yaitu Kerajaan Demak, diceritakan bahwa Majapahit runtuh tahun 1478 SM bukan karena serangan Demak.
f.          Pemerintahan Raden Patah
Raden Patah adalah raja pertama Kesultanan Demak. Menurut Babad Tanah Jawi, menurut Serat Pranitiradya, bergelar Sultan Syah Alam Akbar. Nama Patah sendiri berasal dari kata al-Fatah, yang artinya “Sang Pembuka”, karena ia memang pembuka hutan bintoro dan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Pada tahun 1479 Raden Patah meresmikan Masjid Agung Demak sebagi pusat pemerintahan. Ia juga memperkenalkan pemakaian Salokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan. Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran.
Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Buddha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya. Meskipun naskah babad dan serat memberitakan ia menyerang Majapahit, hal itu dilatarbelakangi persaingan politik memperebutkan kekuasaan pulau Jawa, bukan karena sentimen agama. Lagi pula, naskah babad dan serat juga memberitakan kalau pihak Majapahit lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik. Dibawah pimpinana Raden Patah wilayah Kasultanan Demak semakin luas sampai kemalaka dan hampir seluruh penduduk jawa memeluk agama islam terutama di Demak, cirebon, jepara, jawa timur dan sekitarnya, dan dikisahkan pula Raden Patah meninggal dunia tahun 1518 dalam usia 63 tahun. Digantikan oleh Raden Surya yang dalam Babad Tanah Jawi bergelar Pangeran Sabrang Lor.
g.         Keturunan Raden Patah
Menurut naskah babad dan serat, Raden Patah memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah putri Sunan Ampel , menjadi permaisuri utama, melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trenggana.
Istri yang kedua seorang putri dari Randu Sanga, melahirkan Raden Kanduruwan. Raden Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa menaklukkan Sumenep.
Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa. Ketika Pangeran Sabrang Lor meninggal tahun 1521, Raden Kikin dan Raden Trenggana bersaing memperebutkan takhta. Raden Kikin akhirnya mati dibunuh putra sulung Raden Trenggana yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawata, di tepi sungai. Oleh karena itu, Raden Kikin pun dijuluki Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya bunga yang gugur di sungai.







DAFTAR PUSTAKA
·         P. S. Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, Jakarta, 1978.
·         Pakubuwono V, Sejarah Politik, 1832-1830, (terj.) 2007 Perpustakaan Reksopustoko. Istana Mangkunegaran,
·         Gandarwardaya, Babad Pacitan. Balai Pustaka, Batavia-Cebtrum: 1935.
·         S’ Gravenhage, Nijhoff. Babad Tanah Jawi. Balai Pustaka: 1941, Edisi Meinsma.
·         Buku Babad Tanah Jawi edisi Meinsme, Sejarah Pahlawan Nasional, Sejarah Islam Indonesia: 2008.
·         Purwaka Caruban Nagari, Tulisan pangeran Arya Carbon Kraton Kasepuhan Cirebon th. 1720. Berbahasa Kawi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar