Kamis, 17 November 2011

hakekat iman


MAKALAH
HKIKAT IMAN
BAHASA ARAB KEAHLIAN


Dosen Pembimbing :
Hj. Elvi Na’imah, Lc. M. Ag

Oleh :
MUSTA’IN
26.09.42.018

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2010

HAKIKAT IMAN
v  Pengertian Iman Yang Kita Maksud
Iman apa yang kita maksud dalam pelajaran ini, dan yang dapat memberikan kesan pada diri dan kehidup ?
Sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini tidak jelas/tepat kecuali jika kita mengetahui pengetian iman, dan hal yang terkait dengan iman, pengertian iman dan maknanya, yaitu : tidak hanya dari pengakuan seseorang dengan lisan ” mulut ” dia mu’min, maka alangkah banyak orang-orang pendusta ” munafiq”, yang berkata aku beriman dengan lisa-lisan merka , akan tetapi hati mereka tidak ber-iman ”percaya” :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)
Artinya :
8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(Q.S. Al-Baqoroh : 8-9)

Dan ia tidak hanya dari manusia yang melaksanakan amal-amal dan syi’ar-syiar agama namun pekerjaan mereka dikatakan orang-orang ber-iman, maka alangkah banyak dari kaum(umat) dajjal ”perusak” adalah orang-orang yang  memperlihatkan amal-amal kebaikan, dan amal ibadah yang baik, dan syi’ar-syi’ar ibadah, namun hati mereka kosong dari kebaikan dan amal baik serta kosong dari rasa ikhlas karena Allah.
Artinya :
142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Q.S. An – Nisa : 142)
Dan ia tidak hanya dari pengetahuan teori akal pada Hakikat iman ”kebenaran keyakinan”, maka berapa banyak dari suatu kaum “umat manusia” yang mengetahui hakikat keimanan ”Hakikat iman” namun mereka tak beriman :

14. dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. ( An-Naml : 14 )

Dan perbuatan sombong, hasud ”dengki”, atau cinta dunia, diantara mereka dan antara iman dengan hal yang mereka mengetahui itu setelah jelas kepada mereka hal yang Hak ”benar”,
Artinya:
146. orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) Mengenal Muhammad seperti mereka Mengenal anak-anaknya sendiri[97]. dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka Menyembunyikan kebenaran, Padahal mereka mengetahui. (Al-Baqoroh : 146)
Sesungguhnya iman pada hakikatnya adalah  tidak hanya amal perkataan lisan, dan tidak hanya perbuatan badan dan tidak hanya  perbuatan hati.
Sesungguhnya iman pada hakikatnya adalah  amal perbuatan jiwa sampai pada kedalaman jiwa, dan bercampur semua hal yang berkaitan denganya dari pengetahuan, keinginan,  dan ”mahabbah” rasa cinta.
            Maka seharusnya pengetahuan akal ini terbuka bersamaan dengan iman  yaitu hakikat keberadaan sesuai pada hal yang terjadi, dan terbuka (mata hati) ini tidak sempurna kecuali dari jalan wahyu Allah yang terjaga.
            Dan seharusnya sampai pada keinginan Aqli ”fikir” yang terbatas, dan keyakin yang kokoh, yang tidak menimbulkan suatu kegoncangan yang meragukan dan ke-Shubhat-an ” samar-samar”.
Artinya :
15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.
(Al-Hujarat : 15)
Maka seharusnya diiringi pengetahuan kokoh pada tunduknya hati, dan pengetahuan yang kuat, seperti pada Khudu’ ”ketundukan” dan ta’at hukum”patuh”, bersama orang yang yakin, disertai ridho ”pasrah” dan menerima : 


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)
Artinya :
65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada dasarnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (15)

15. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)
36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Maka seharusnya dia mengikuti Ma’rifat ”pengetahuan” itu, dan kecintaan yang tinggi dan Cinta yang mendalam, yang mendorong pada kebutuhan “ aqidah ” Keyakinan, dan wajib dengan asas-asas Aqidah baik pada Akhlak dan Amaliyah ibadah dan jihad di jalannya, dengan harta dan jiwa, maka kita temukan Al – Qur’an yang mulia, menshifati orang-orang mu’min , Allah berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4)
Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal,

8:3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Dan Al – Qur’an Al – Karim memaparkan kelanggengan iman dalam akhlak hidup, dan amal murni, agar dapat dibedakannya orang-orang beriman, dengan orang kafir “ingkar” dan munafik “penipu/pembohong” :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5)
Artinya :
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,

23:5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya
Dan Allah yang maha luhur berfirman dalam mensifati orang – orang ber-iman-an dan orang-orang yang dapat dipercaya. :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (15)
15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

Dan Syahid Islam Ust. Sayyid Quthub semoga dirahmati Allah didalam Tafsir ayat dari “Ad-Dhilalul Al-Qur’an” ( Naungan Al-qur’an) :

Iman itu adalah membenarkan dalam hati pada Allah dan Rosul-Nya, kebenaran yang tidak menimbulkan keraguan dan kebimbangan, kebenaran itu ketenang yang  menetapkan keyakinan yang tidak kacau dan tidak bimbang,  dan tidak rancu, dan tidak ada samar, dan tidak memaksa hati dan perasaan, yang meluapkan semangat jihad “berperang” dengan harta dan jiwa dijalan Allah, maka hati ini merasakan kesejukan iman dan ketentraman, dan ketetapan hati, dan seharusnya mendorong mewujudkan kebenaran hakikat iman di luar hati, pada sa’at itu, dalam dunia manusia. berharap menyatukan antara sesuatu yang dirasakan dihatinya dari hakikat iman “inti keyakinan”, dan hal yang meliputi secara nyaata dari melaksanakan hal-hal pada saat itu, tidak dikatakan sabar bila memisahkan antar gambaran iman yang terlihat, dan gambaran  dari perbuatannya, karena pemisahan ini ini menyakitkan dan merusak hati dalam setiap detik, dan dari sinilah kemutlakan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa. maka ia adalah kemutlakan substansial dari jiwa seseorang yang beriman, bertujuan membenarkan gambaran yang jelas di hati seorang mu’min, agar dapat melihat gambaran seperti gambaran kenyataan hidup sa’at itu dan manusia,  dan permusuhan antara orang mu’min dan antara kehidupan jahiliyyah “kebodohan” dari perbuatannya pada gambaran substansi yang muncul dari ketiadak kemampuannya pada kehidupan yang kedua antara gambaran iman dan terjadinya amliyah, dan seperti itu tidak mampunya menurunkan dari penggambaran iman yang sempurna yang baik dan lurus (benar) di jalan terjadinya amal yang kurang yang jelek dan menyimpang, maka wajib dari memerangi antara hal yang menyimpang dan antara hal jahilliyah dari tingkah lakunya, sehingga kebodohan ini dapat berakhir menuju pada penggambaran iman dan kehidupan yang beriman
            Ini adalah pesan-pesan dan pelajaran yang aku sebutkan yaitu yang berada pada kitab “Imanul hak“ keyakinan yang benar dan jika kamu menginginkan dapat mengatakan “Al-Aqidah Al-Haqoh” aqidah yang benar dan jika dicermati sebagian pesan ini maka benar ketetapan darinya tidak dimiliki namun disebut “imanan” iman atau Aqidah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar