Kamis, 24 Mei 2012

proposisi dan oposisi


PROPOSISI
A.    PENDAHULUAN
Telah kita ketahui, logika mempelajari cara bernalar yang benar dan kita tidak bisa melaksanakannya tanpa memiliki terlebih dahulu pengetahuan yang menjadi premisnya. Dengan menggunakan premis yang dapat dipertanggungjawabkan dan melalui proses penalaran yang sah akan menghasilkan kesimpulan yang benar. Premis-premis di mana logika bergelut berupa pernyataan dalam bentuk kata-kata, meskipun dalam penyelidikan lebih lanjut dijumpai pernyataan dalam bentuk rumus-rumus. Pernyataan manusia yang ingin mengungkapkan sebuah keinginan, perintah, harapan, kaguman, dan penggunaan realitas tertentu baik dikatakan dalam bentuk positif maupun negatif. Dalam makalah ini kita akan mempelajari lebih lanjut apa itu proposisi, bagaimana bentuk-bentuk dan contohnya.

B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian
Pernyataan logika berurusan dengan sebuah pernyataan pikiran dalam bentuk terakhir, seperti:[1]
Hasan adalah manusi penyabar.
Agus Salim adalah seorang diplomat.
Besi tidak lebih ringan dari pada selembar kertas.

Melihat dari beberapa pernyataan tersebut dan memperhatikannya  maka dapat di simpulkan, sebuah pernyataan dalam bentuk kalimat yang dapat dinilai benar dan salahnya, atau bisa disebut dengan proposisi.
Proposisi merupakan bentuk terkecil dalam pikiran yang mengandung maksud sempurna. Proposisi disini masih bisa dianalisis menjadi kata-kata, tetapi kata-kata hanya dapat menghadirkan pengertian sesuatu, bukan pemikiran sesuatu. Contoh: Ambilkan aku segelas air.
2.      Pembagian Proposisi
Berdasarkan sumbernya, proposisi dibedakan menjadi dua macam, yakni:
a.      Proposisi Analitik
Proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian atau sudah terkandung dalam subjeknya.
Contoh: Gajah adalah binatang mamalia.
Karena kata ‘binatang mamalia’ pada contoh tersebut sudah terkandung pengertiannya pada subjek ‘gajah’. Jadi, proposisi analitik ini tidak memberikan pengertian yang baru dalam predikatnya. Bisa dikatakan proposisi analitik disebut juga proposisi a priori.
b.      Proposisi Sintetik
Proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang bukan menjadi keharusan bagi subjeknya.
Contoh: Gadis itu berbadan besar.
Karena kata ‘berbadan besar’ pada contoh tersebut pengertiannya belum terkandung pada subjek, yaitu ‘gadis’. Karena bisa dikatakan tidak hanya gadis yang berbadan besar, seekor gajah juga memiliki badan besar. Jadi proposisi sintetik merupakan lukisan kenyataan empirik yang menguji kebenarannya dan diukur berdasarkan kenyataan empiriknya sesuai atau tidak. Proposisi ini juga bisa disebut proposisi a posteriori.
Berdasarkan bentuknya, proposisi dibagi menjadi 3 macam, yakni:
a.      Proposisi Kategorik
Proposisi kategorik adalah proposisi yang mengandung pernyataan tanpa adanya syarat.
Contoh: Anak-anak yang tinggal di asramah adalah mahasiswa.
Proposisi kategorik, yang paling sederhana terdiri dari satu term subjek, satu term predikat, satu kopula dan satu quantifier.[2]
Kopula adalah kata yang menyetakan hubungan antara term subjek dengan term predikat. Quantifier adalah kata yang menunjukkan banyaknya satuan yang diikat oleh term subjek.
Contoh: sebagian manusia adalah pemabuk
Sebagian=quantifier, manusia=term subjek, adalah=kopula, pemabuk=term predikat

Apabila quantifier suatu proposisi menunjukkan pada permasalahan universal, seperti; seluruh, semua, segenap, maka proposisi itu disebut proposisi universal. Apabila menunjukkan permasalah partikular, maka disebut proposisi partikular. Dan apabila menunjukkan pada permasalahan singular, maka disebut proposisi singular.
Perlu diketahui, apabila dalam sebuah kalimat tidak dinyatakan quantifier-nya, belum tentu subjek tidak mengandung pengertian banyaknya satuan yang diikatnya. [3]Untuk dapat mengetahuinya tanpa ada quantifier kita dapat mengetahui lewat subjek dan predikat, seperti:
·         Proposisi universal      : Semua tanaman membutuhkan air.
·         Proposisi partikular     : Sebagian mannusia dapat menerima pendidikan.
·         Proposisi singular        : Seorang yang bernama hasan adalah seorang guru.
Proposisi tersebut dapat dinyatakan quantifier-nya tanpa mengubah kuantitas proposisinya:
·         Proposisi universal      : Tanaman membutuhkan air.
·         Proposisi partikular     : Manusia dapat menerima pendidikan.
·         Proposisi singular        : Hasan adalah guru.
Kopula seperti yang sudah dijelaskan adalah kata yang menjelaskan hubungan subjek dan predikat, baik yang mengiakan maupun yang mengingkari. Kopula menentukan kualitas proposisinya. Bila ia mengiakan disebut proposisi positif, dan bila ia mengingkari disebut proposisi negatif.[4]
Dari beberapa kombinasi antara kuantitas dan kualitas proposisi maka kita mengenal beberapa macam proposisi, yaitu:
v  Universal positif, contoh: Semua manusia akan mati.
v  Partikular posistif, contoh: Sebagian manusia adalah guru.
v  Singular positif, conttoh: Susi susanti adalah pemain bulu tangkis.
v  Universal negatif, contoh: Semua kuda bukan burung.
v  Partikular negatif, contoh: Beberapa siswa SMP tidak naik kelas.
v  Singular negatif, contoh: Fatimah bukan gadis pemalu.
Lambang permasalahan dan rumusan proposisi
Lamabang
Permasalaha
Rumus
A
Universal positif
Semua S adalah P
I
Partikular positif
Sebagian S adalah P
E
Universal negatif
Semua S bukan P
O
Partikular negatif
Sebagian S bukan P

b.      Proposisi Hipotetik
Proposisi yang mengandung persyaratan dalam sebuah kalimat. Kalau proposisi kategorik kopulanya selalu ‘adalah’,’bukan’, atau ‘tidak’; maka proposisi hipotetik kopulanya berupa ‘jika, apabila, manakala’ yang kemudian dilanjutkan ‘maka’, meskipun yang terakhir ini sering tidak dinyatakan dalam kalimat.
Contoh: Jika permintaan bertambah maka harga akan naik.
Pada dasarnya kalimat itu terdiri dari dua proposisi kategorik ‘Permintaan bertambah’ dan ‘Harga akan naik’. Kata ‘jika’ dan ‘maka’ dalam kalimat tersebut merupkan kopula dari proposisi hipotetik. ‘Permintaan bertambah’ disebut juga antecedent dan ‘harga akan naik’ disebut sebagai akibat atau konsekuen.
Proposisi hipotetik dibedakan menjadi dua macam bentuk:
Petama, bila A adalah B maka A adalah C. seperti: Bila Hasan rajin ia akan naik kelas.
Kedua, bila A adalah B maka C adalah D. seperti: Bila hujan saya naik becak.
Antara sebab dan akibat dalam proposisi hipotetik mempunyai hubungan adakalanya merupakan hubungan kebiasaan dan keharusan.
Proposisi hipotetik dalam hubungan kebiasaan
Contoh: Jika hujan turun, saya tidak akan pergi.
Proposisi hipotetik dalam hubungan keharusan
Contoh: Bila sesuatu itu hidup maka ia membutuhkan air.

c.       Proposisi Disyungtif[5]
Proposisi yang mempunyai persyaratan tertentu dalam sebuah kalimat. Seperti halnya proposisi hipotetik, proposisi disyungitif juga terdiri dari dua proposisi kategorik. Proposisi jika tidak benar maka salah; jika dianalisis menjadi: ‘Proposisi itu benar’ dan ‘Proposisi itu salah’. Kopula dalam proposisi disyungitif berupa ‘jika’ dan ‘maka’ yang mengubah proposisi kategorik menjadi permasalahan disyungitif.
Contoh: Hidup kalau tidak bahagia adalah susah.
Dalam proposisi hipotetik kopula menghubungkan sebab dan akibat, sedangkan dalam proposisi disyungitif kopula menghubungkan dua alternatif. Dalam proposisi disyungitif terdiri dari dua bentu, yakni: Proposisi disyungitif sempurna dengan alternatif kontradiktif
Contoh: A mungkin B mungkin non B
Budi mungkin masih hidup mungkin sudah mati.
Proposisi disyungitif tidak sempurna dengan alternatif tidak berbentuk kontradiktif
Contoh: A mungkin B mungkin C
Budi di toko atau di rumah.

C.    PENUTUP
Sebagaiman pemaparan diatas bahwa membicarakan tentang Logika tidak akan pernal lepas dari apa yang disebut sebagi sebuah keputusan. Sementara dalam mengekspresikan sebuah keputusan, tentunya dibutuhkan kata-kata, lalu kata-kata itu pada akhirnya membentuk sebuah ungkapan. Dari ekspresi ungkapan kata muncul apa yang disebut dengan proposisi atau dalam bahasa mantik disebut dengan istilah qadliyah.
Sebarnya antara ilmu logika secara umum dan ilmu mantiq secara khusus, keduanya mempunyai substansi dan esensi yang sama yakni sebuah disiplin keilmuan yang berusaha mengarahkan untuk berfikir secara logis dan sistematis.

DAFTAR PUSTAKA
Mundiri. Logika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994.
Saipudin. Diklat Perkuliahan Ilmu Mantik (Logika). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Pres, 2004.
Hasan, M. Ali. Ilmu Mantik Logika, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991.

PROPOSISI
logo iain.JPG

Makalh ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah:
LOGIKA MANTIK
Dosen pengampu Drs. H. Amir Ghufron, M. Ag

Disusun oleh:
Arif Setiawan            : 26.09.4.2. 007
Awang Yulias Supardi : 26.09.4.2.008
Farid Hermanto : 26.09.4.2.009

PRODI AQIDAH FILSAFAT
JURUSAN USHULUDDIN

FAKULTAS USHULUDDIN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2011


[1] Mundiri. Logika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994.
[2] Ibid hal.50
[3] Hasan, M. Ali. Ilmu Mantik Logika, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991.
[4] Saipudin. Diklat Perkuliahan Ilmu Mantik (Logika). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Pres, 2004.\
[5] Ibid hal.60

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar