Kamis, 24 Mei 2012

Sains Berparadigma Baru Tentang Tuhan


Sains Berparadigma Baru Tentang Tuhan
A.    PENDAHULUAN
Islam sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang mundur dan memundurkan. Islam juga dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut dan menguasai berbagai lapangan keilmuan. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.
Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan. Dalam situasi yang dikuasai oleh arus pemikiran tersebut, dapat terjadi arus balik secara terang-terangan menabrak arus yang sedang bergerak. Pada hakekatnya merupakan implikasi dari sains yang berparadigma baru tentang dunia sains dalam membangun sebuah tradisi ilmiah yang kemudian menimbulkan sebuah problema metafisik dan ketuhanan.
Ketertinggalan dan kelemahan bangsa-bangsa Muslim tersebut terbukti semakin membelenggu kemerdekaan dan kemandirian bangsa-bangsa muslim baik secara ekonomi, politik maupun sosial-budaya, sejak era kolonialisme-imperialisme sampai ini era postkolonialisme kini. Dampak ikutan lainnya ialah ketika filsafat dan paradigma sains-teknologi modern, yang dikembangkan dunia Barat dan Timur Non-Islam itu, ternyata telah membawa juga ekses negatif dalam pola pikir dan budaya, kerusakan di bidang lingkungan hidup dan tragedi kemanusian secara global.
B.     PEMBAHASAN
1.      Tokoh Sains dalam Islam

Salah satu tokoh terkemuka sainstis dari dunia Islam di akhir abad 20 yang sangat memprihatinkan kondisi sains-teknologi umat Islam ini adalah Prof. Dr. M. Abdus Salam (wafat 21 November 1996 dalam usia 70 tahun). Menurutnya pengakuannya ada beberapa hal yang menyebabkannya begitu mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memajukan ilmu pengetahuan di dunia ke-tiga (yang mayoritas adalah bangsa-bangsa Muslim). Hal itu: pertama, karena ia adalah seorang muslim. Baginya persaudaraan sesama Muslim sangatlah penting, dan yang kedua karena sejak usianya yang masih muda ia sudah terlibat dalam kerangka kerja PBB.
Yang harus mendapat perhatian adalah jurang perbedaan antara Utara dan Selatan, atau negara maju dan negara berkembang. Kedua belah pihak memiliki masalah yang berbeda. Negara-negara Utara menghadapi ancaman perlombaan senjata dan perang nuklir, sedangkan Selatan menghadapi ancaman kelaparan dan kemiskinan yang akut. Masalah ini timbul, menurut Abdus Salam, karena satu pihak memiliki jalur ilmu pengetahuan sedangkan yang lainnya tidak.
Kunci permasalahannya adalah harus ada pemerataan ilmu pengetahuan secara adil. Bukan sekedar alih teknologi. Menurut satu-satunya Muslim pemenang hadiah Nobel bidang Fisika ini, teknologi hanyalah aplikasi pengetahuan ilmiah terhadap masalah-masalah manusia. Keliru kalau ada asumsi bahwa alih teknologi akan dapat menyelamatkan dunia ketiga. Dunia ketiga seharusnya lebih meminta alih atau merebut ilmu-ilmu pengetahuan dasar yang dapat menumbuhkan teknologi sesuai dengan kebutuhan bangsanya yang asli dan domestik.
Abdus Salam memberi contoh Jepang misalnya. Bertahun-tahun lamanya mereka menyerap ilmu pengetahuan dasar dari dunia Barat. Sekarang kita dapat melihat bagaimana Jepang mampu menghasilkan teknologi tinggi. Kecenderungan yang sama tengah berlangsung di Brazil, Korea Selatan, India, Argentina dan Cina.
Abdus Salam adalah fisikawan Muslim yang paling menonjol abad ini. Dia termasuk orang pertama yang mengubah pandangan parsialisme para fisikawan dalam melihat kelima gaya dasar yang berperan di alam ini, yaitu gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, gaya kuat yang menahan proton dan neutron tetap berdekatan dalam inti, serta gaya (arus) lemah yang antara lain bertanggung jawab terhadap lambatnya reaksi peluruhan inti radioaktif.
Selama berabad-abad kelima gaya itu dipahami secara terpisah menurut kerangka dalil dan postulatnya yang berbeda-beda. Adanya kesatuan dalam interaksi gaya-gaya dirumuskan oleh trio Abdus Salam, Seldon Lee Glashow dan Steven Weinberg dalam terorinya “Unifying the Forces.” Menurut teori yang diumumkan 1967 itu, arus lemah dalam inti atom diageni oleh tiga partikel yang masing-masing memancarkan arus atau gaya kuat. Dua belas tahun kemudian hukum itulah yang melahirkan Nobel Fisika 1979.
Eksistensi tiga partikel telah dibuktikan secara eksperimental tahun 1983 oleh tim riset yang dipimpin oleh Carlo Rubia, direktur CERN (Centre European de Recherche Nucleaire) di Jenewa, Swiss. Ternyata rintisan Abdus Salam itu kemudian mengilhami para fisikawan lain ketika mengembangkan teori-teori kosmologi mutakhir seperti Grand Unifying Theori (GUT) yang dicanangkan ilmuwan AS dan Theory Everything-nya Stephen Hawking. Melalui dua teori itulah para fisikawan dan kosmolog dunia kini berambisi untuk menjelaskan rahasia penciptaan alam semesta dalam satu teori tunggal yang utuh.
2.      Keberadaan Tuhan Menurut Saintisisme[1]
Para ilmuan memberikan tanggapan yang berbeda tentang sains dan dalam menanggapinya berbagai macam pendapat tentang alam semesta dan keindahannya. Bahkan mereka pun mempunyai firasat bahwa alam semesta itu terlalu sederhana untuk diterangkan sebagai sebuah realitas yang didalamnya berlangsung interaksi bersifat kebetulan saja. Dari berbagai definisi, persepsi dan tolok ukur mengenai keindahan dari satu mesyarakat ke masyarakat lain berbeda, namun tetap konsensus terhadap apa yang disebut sebagai keindahan, keelokan atau segala sesuatu yang meninggalkan pesona, lebih sering dapat dicapai kesepakatannya. Keindahan ini menjadi faktor intuitif yang penting yang menunjukkan adanya Tuhan. Kita semua pasti pernah terpesona dengan keindahan matahari yang terbenam, keelokan gunung-gunung yang dilatari oleh langit biru, atau gerhana matahari yang diselimuti dengan suasana mistis. Demikian pula menyaksikan alam semesta ini yang begitu cantik, serba teratur, yang mampu memelihara dirinya sendiri dengan mengatasi berbagai gangguan lewat hukum-hukum fisikanya yang sederhana tetapi berlaku universal. Tidak mengherankan apabila banyak orang yang berintuisi akan adanya sang arsitek dari kosmos ini.
Harus diakui bahwa segala argument mengenai keindahan, keteraturan, dan kebesaran dari alam semesta ini pada dasarnya belum begitu meyakinkan untuk membuktikan adanya Tuhan. Meski demikian semunya tetap mengisyaratkan akan suatu kekuatan yang begitu superior dalam diri manusia dan segala sesuatu yang ada disekitar manusia. Bagaimana pun juga pendekatan intuitif dapat dijadikan titik pijak untuk melangkah lebih jauh.
3.      Tuhan-Pencipta Menurut Para Ahli Sains
Paham tentang Tuhan-pencipta ini bisa dilihat dalam masalah asal mula alam semesta dan batas-batas metodologi sains. Pada abad 20, sains bercirikan pada determinisme, yang mana abad ini nampak adanya dua posisi yang dominan.[2] Pertama, bila hipotesis Tuhan tidak diabaikan. Bagian ini para ilmuan cenderung menyamakan Tuhan dengan tukang arloji, yang mempertanggung jawabkan aturan-aturan tertentu yang dalam arloji (alam semesta). Posisi Tuhan hanya sebagai pengamat atau penonton saja tanpa adanya daya inofatif dan yang berlangsung berdasarkan suatu proses yang mutlak. Kedua, jika hipotesis Tuhan ditolak. Penolakan ini dikarenakan adanya pendapat bahwa materi bersifat kekal dan mutlak. Seperti yang dijelaskan oleh Engels, bahwa materi tetap tinggal untuk selama-lamanya ditengah semua transformasinya, dia tidak bisa kehilangan satu pun dari semua atribut-atributnya. Teori ini bisa diintegrasikan dalam konsepsi kuno tentang suatu alam semesta yang kekal dan siklis, dan yang menciptakan dirinya sendiri.
Kedua paham tersebut mampu menjadikan adanya ciri khas bagi ahli sains, dimana kata Tuhan menunjukkan dunia sendiri misalnya dalam istilah Roh Utama, Realitas dalam dirinya sendiri, Alam, Kesadaran. Gnose dari Princeton adalah salah satu contoh tipikal dari kecenderungan yang ekstrim tersebut.
Terdapat sejumlah ilmuan yang memunculkan secara eksplisisif tentang  asal mula kosmos, dalam arti suatu permulaan waktu tertentu. Gagasan tentang sesuatu permulaan yang mutlak tersebut terdapat diluar sains dan tidak dapat dijangkau oleh akal. Beberapa ilmuan Hawking misalnya, menambahkan bahwa: “selama kosmos mempunyai suatu asal mula, kita boleh mengandaikan bahwa kosmos itu mempunyai seorang Pencipta.”
Disisi lain beberapa ilmuan ingin menghindari suatu paham yang sangat religious seperti ilmuan sebelumnya. Mereka berpaling pada gagasan yang “samar samar kuantik”, tetapi pembuktiannya tentang alam semesta mengalami ketidakpastian. Karena alam semesta yang tidak bisa diukur dan dideskripsikan gerakannya sebagaimana mengukur gerak atom secara pasti. Walaupun menggunakan alat yang sangat canggih sekali pun, karena ketidakpastian tersebut terikat pada kegiatan pengukuran itu sendiri.

C.    PENUTUP
Berbagai pendekatan untuk memahami femomena keberadaan Tuhan, secara ,meyakinkan dijelaskan berbagai fakta dan data yang terus mendesak dari berbagai sudut-dari yang bernada intuitif dan terlepas dari uraian yang begitu mempesona yang baru saja kita bahas. Jadi menurut para sains menjelaskan Tuhan-Pencipta tidak serupa sebagaimana menjelaskan gerak atom yang dapat dideskripsikan geraknya. Argument teologis secara gambalang menjelaskan Tuhan, bahwa secara tidak kita sadari kita sudah mengakui bahwa Tuhan itu ada dan yang menciptakan alam semesta ini. Dengan keindahan, keelokan dari alam itu sendiri yang tidak bisa dijelaskan secara pasti walaupun menggunakan alat yang sangat canggih. Karena pada dasarnya kemampuan manusia yang sangat terbatas dan akal yang tidak bisa menjangkau akan keberadaan Tuhan itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Leahy, Louis, Jika Sains Mencari Makna, Yogyakarta: Kanisius. 2006
Ahwani, Ahmad Fuad al, Filsafat Islam. Pustaka Firdaus. 1996

Sains Berparadigma Baru Tentang Tuhan

Tugas ini disusun guna memenuhi matakuliah
Perkembangan Teologi Modern
Dosen pengampu: Drs. H. Kasmuri, M. Ag

Disusun oleh:
Awang Yulias Supardi
Khoirun Nisa’
Siti Munirotun Na’im

PROGRAM STUDI AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2011




[1] Lihat artikel tentang Sains dan keberadaan Tuhan, yang berjudul “Sains Berparadigma Baru dan Keberadaan Allah: Sebuah Argumentasi Teologis. h. 102-103
[2] Louis leahy, Jika Sains Mencari Makna, Yogyakarta: Kanisius (2006), h. 53-54

STRATEGI PENGEMBAN TEORI KLASIK


STRATEGI PENGEMBAN TEORI KLASIK
Strategi Klasik
Strategi ini bisa disebut juga dengan strategi dari teori lapangan. Strategi ini memiliki 3 tahap:
a.       Tahap konseptualisasi
Tahap ini terdiri dari dua kegiatan pokok yakni:
·         pengembangan konsep dan definisi
·         pengembangan proposisi
yang menghubungkan antara konsep-konsep yang ada.
b.      Tahap pengembangan hipotesis
Tshsp ini merupakan kegiatan yang menjembatani antara konsep abstrak dengan data empiris. Tahap ini terdiri dari dua kegiatan pengembangan yakni, mengembangkna hipotesis dan mengembangkan alat pengukuran konsep.
c.       Tahap validasi teori
Tahap ini merupakan tahap di mana kegiatan yang dilakukan untuk validasi data empirik, untuk itu kegitan yang dilakukan berupa data dikumpulkan dan testing.
Menurut Reynolds (1971)menjabarkan, teori klasik terdiri dari beberapa kegiatan, diantaranya:
a.       Pengembangan kerangka teori
Berdasarkan literature dan hasil penelitian yang dilakukan dapat mengembangkan teori untuk menerangkan fenomena yang dihadapi.
b.      Pengembangan pernyataan-pernyataan
Pengembangan ini dilakukan dengan pengujian data empiris di lapangan. Merupakan lanjutan dari tahap pertama yang mungkin pengembangannya masih bersifat abstrak, kemudian di tahap kedua ini dijabarkan sehingga berada pada level empiris.
c.       Pengembangan design research untuk testing.
d.      Mengubah pernyataan yang ada dengan mengubah design testingnya.
e.       Menemukan keterbatasan teori. Artinya apabila pernyataan yang cocok dengan data lapangan pada kondisi dan situasi yang dimana teori tersebut tidak berlaku.
Strategi ini dikembangkan oleh Popper dimana pengembangan ilmu pengetahuan yang berkembang dengan cepat, pada karyanya yang berjudul Conjectures and Refutations (1963).
Apabila suatu teori telah dibutikan bahwa teori tersebut tidak sesuai dengan data empiris atau dengan kata lain data empiris tidak mendukung teori yang dikembangkan, maka teori tersebut harus diubah kalau perlu diringgalkan. Strategi ini memiliki beberapa asumsi berupa; pertama, ilmuan harus mengembangkan diskripsi untuk setiap fenomena yang dihadapi. Kedua, proses yang digunakan dalam bentuk aksiomatis atau kausal proses.
Kelebihan dan kekuranga pengembangan teori klasik.
Kelebihan:
a.       Strategi ini bersifat komplit. Baik dalam pengembangan maupun dalam testing teori.
b.      Strategi ini dapat mengembangkan konsep abstrak. Sehingga dapat dikembangkan dalam konsep yang luas.
Kelemahan:
a.       Kesalahan pengukuran. Karena dalam pengukuran yang sangat besar dimana alat ukur tidak mencerminkan konsep yang abstark atau problem validitas.
b.      Bersifat deduksi dan terlalu menonjol.
Dalam suatu penelitian hipotesis dibangun berdasarkan teori-teori yang telah ada. Dengan hipotesis, kita mempertanyakan keabsahan suatu teori dengan kenyataan yang ada. Apabila hipotesis yang dilakukan cocok dengan kenyataan, maka hipotesis ini menjadi teori baru yang di gunakan dalam pengembangan hipotesis. Penelitian dilakukan untuk menemukna suatu jawaban atas permasalahhan yang dihadapi, dengan cara mendasarkan pada teori yang  sudah ada. Kegiatan dalam penelitian social antara lain:
1.      Menemukan Masalah
salah satu dasar pengambilan masalah adalah rasa keingintahuan (curiosity). Rasa ini akna menimbulkan interest pada diri seseorang. Dan hal ini harus dimiki oleh seseorang dalam melakuan penelitian. Tanpa adanya hal itu penelitian yang dilakuan tidak akan pernah selesai.
Contoh: meneliti suatu perkampungan di desa dekat sebuah pabrik. Ia menemukan jumlah anak yang lebih sedikit dari tempat tinggalnya. Kemudian timbullah interest untuk mengamati lebih jauh mengapa ada perbadaan jumlah anak di daerah tersebut.
2.      Mengembangkan Kerangka Teori
setelah problema penelitian ditemukan, maka kita harus memberikan jawaban yang berupa teori yang sudah ada atau hasil penelitian yang sudah dilakukan. Kerangka teori dalam suatu penelitian mempunyai beberapa fungsi:
a.       Mengembangkan model penelitian
b.      Mengembangkan konsep dan variable dalam penelitian
c.       Mengembangkan hipotesis penelitian
d.      Mengembangkan devinisi oprasional
e.       Mengembangkan instrument penelitian
3.      Mengembangkan Model Dan Hipotesis
model penelitian adalah penyerdehanaan yang komplek dari hubungan variable-variabell. Suatu hipotesis harus jelas dan dapat diukur, dalam arti variable yang dikandung dapat dipahami bersama. Dapat diukur, artinya variable tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk oprasional.
4.      Mengembangkan Definisi Oprasional dan Instrument
model dan hipotesis yang telah selesai dikembangkan maka kita harus menjabarkan semua variable yang ada dalam bentuk oprasional. Artinya pembaca yang membaca hipotesis tersebut mendapatkan gembaran bagaimana mengukur variable yang ada dalam penelitian. Berdasarkan definisi oprasional tersebut kita dapat mengembangkan instrument penelitian.
5.      Menentukan Sample, Mengumpulkan Data, dan Menganalisis Data
Karena waktu tidak banyak dalam melakukan penelitian, maka tidak mungkin bisa mengumpulkan data dari sebagian populasi. Oleh karena itu data yang dikumpulan berupa sebagian populasi yang disebut sample. Pertama kita harus mengetahui cirri-ciri dari populasi, untuk emndapatkan sample yang baik sesuai dengan cirri-ciri populasi tersebut dan bagaimana sample itu dipilih. Setelah itu cara mengumpulkan data, terakhir menganalisis data dengan tehnik analisis yang sesuai dengan penelitian tersebut.
6.      Menyimpulkan dan Menggeneralisir Hasil Penelitian.
Hasil analisis kemudian disimpulkan. Hakekat yang disimpulkan adalah berupa data yang mendukung atau menolak teori yang diajukan. Kalau tidak mendukung sepenuhnya teori yang kita ajukan maka kita perlu merevisi teori yang dikembangkan, untuk kemudian kita uji lagi. Kadangkala suatu penelitian tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tidak terbukti. Bukan karena kita gagal melainkan teori yang kita gunakan tidak cocok dengan data. Denga kata lain kita menemuka teori batu. Setelah itu untuk mencapai pada penemuan teori yang baru kita perlu memperhatikan; (a) apakah instrument yang dikembangkan sudah cocok dengan definisi oprasional yang ada? (b) apakah hipotesis yang dikembangkan sudah sesuai dengan teori yang ada? Kalau memang semuanya sudah sesuai dengan kerangka teori, maka hasil penelitian yang tidak cocok dengan hipotesi haru kita uji kembali.

KONSEP AJARAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI MENURUT SYEKH SITI JENAR


KONSEP AJARAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI MENURUT SYEKH SITI JENAR

  1. PENDAHULUAN
Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah"). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep "keseimbangan".
  1. PEMBAHASAN
1.      RIWAYAT SYEKH SITI JENAR
Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yang multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.
Syekh Siti Jenar memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil merupakan putra seorang ulama asal Malaka. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yang ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yang menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yang sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka pada akhir tahun 1424 M.
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Setelah itu San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yang sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi. Saat itu Cirebon dengan Padepokan Giri Amparan Jatinya yang diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dengan sepenuh hati, disertai pendidikan otodidak bidang spiritual.
2.      AJARAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI
Dalam ajaran Kejawen ada istilah “Manunggaling Kawula Gusti”. Hal ini sering diartikan bahwa menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personifikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran, Ingsun) yang dimaksud adalah personifikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), atau (emanasi, pancaran) Tuhan.  Konsep dan ajaran            Kenetralan sebagian atau keseluruhan artikel ini dipertentangkan.
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya.
Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara, tetapi tidak termasuk hukum syariat peribadatan sebagaimana yang ditentukan oleh syariah. Menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Syekh Siti Jenar, manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu syahadat, Sholat, puasa, zakat, dan haji. Baginya, syariah baru akan berlaku setelah manusia menjalani kehidupan pasca kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam “budi”. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu, mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam, kira-kira pada abad ke-9 Masehi) tentang hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat Tuhan dan manusia.
Adapun ajaran yang diberikan oleh Syekh Siti Jenar, berupa:
1.      Syariat, dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti salat, zakat, dan lain-lain,
2.      Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, zikir dalam waktu dan hitungan tertentu,
3.      Hakekat, di mana hakikat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan, dan
4.      Makrifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut, maka tahapan di bawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami ratusan tahun setelah wafatnya Syekh Siti Jenar. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam di mana pada masa itu, ajaran Islam yang harus disampaikan seharusnya masih pada tingkatan syariat, sedangkan ajaran Syekh Siti Jenar telah jauh memasuki tahap hakekat, bahkan makrifat kepada Allah. Oleh karena itu, ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan label sesat.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus memperdebatkan masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apa pun, setiap pemeluknya sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa, hanya saja masing-masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing-masing pemeluk agama tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
3.      KEMATIAN SYEKH SITI JENAR
Dalam ajarannya ini, para muridnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya.
Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan sesuai dengan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang penciptaan manusia.
“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." Q.S. Shaad: 71-72
Dengan demikian, roh manusia akan menyatu dengan roh Tuhan ketika terjadi penyembahan terhadap Tuhan. Perbedaan penafsiran ayat Al-Quran dari para murid Syekh Siti Jenar inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam roh Tuhan.
Para wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka, berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Syekh Siti Jenar. Menurut Syekh Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuhnya karena ia bisa meminum tirta marta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menuju kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.
Tidak lama kemudian, terbujurlah jenazah Syekh Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang pandai, yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, dan Ki Pringgoboyo ikut mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.

  1. PENUTUP
            Pada dasarnya ajaran Manunggaling Kawula Gusti ini bersadarkan iman tauhid seseorang dalam keyakinannya. Sebenarnya ajaran tauhid yang diberikan oleh syekh siti jenar tidak sesat, hanya saja dalam mempelajarinya bukan sembarang orang bisa mempelajari dan mengamalkannya, melainkan dengan penuh keteguhan hati dan keyakinan iman dalam diri yang kuat tanpa tergoda dengan keindahan dunia. Dengan kata lain orang itu harus bisa memiliki ilmu ikhlas yang mendalam, dalam mempelajari aliran Manunggaling Kawula Gusti disini.
Daftar Pustaka
Purwadi. Tasawuf Jawa, Yogyakarta: Narasi. 2003.
Simuh. MIstik Islam Kejawen Raden Ngabehi Rangga Warsita, Jakarta: Universitas Indonesia-Press. 1998
Chodjim, Ahmad. Syekh Siti jenar, ‘Makna kematian’, Jakarta: Srambi Ilmu. 2002
KONSEP AJARAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI MENURUT SYEKH SITI JENAR










Makalah ini disusun guna memenuhi tugas matakuliah
MISTISISME ISLAM JAWA
Dr. H. Umar Ibrahim, M. Ag


Disusun Oleh:
AWANG YULIAS SUPARDI
KHOIRUN NISA’
NASRUDIN






AQIDAH FILSAFAT
JURUSAN USHULUDDIN
FAKULTAS USHULUDDIN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2011